Yayasan LPKT Empati


Selamat Datang Di LPKT EMPATI ("Embun Pagi Sehat Alami")

Jumat, 18 Mei 2012

Latar Belakang


Tujuan pembangunan kesehatan yang tertera dalam GBHN adalah meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat dan mampu mengatasi masalah kesehatan sederhana terutama melalui upaya pencegahan dan peningkatan upaya pemerataan pelayanan kesehatan agar terjangkau oleh masyarakat sampai ke pelosok pedesaan, maka upaya pengobatan berbasis terapi merupakan suatu alternatif yang tepat sebagai pendamping pengobatan modern.

Ilmu Kesehatan pada dasarnya adalah sebuah ilmu yang bersifat umum dan universal artinya bisa diterima secara umum di tengah masyarakat dan bisa diaplikasikan dimana saja dan kapan saja sebagai sarana pengobatan terhadap suatu penyakit. Namun di dalamnya ada yang Islami yaitu sejalan dengan syara’, adapula yang tidak Islami atau berlawanan dengannya. Berbicara mengenai dunia kesehatan tentunya tidak lepas dengan Ilmu Kedokteran atau Pengobatan. Islam sendiri mempunyai landasan Ilmu Kesehatan yang bersumber dari Nabi yang dikenal Thibbun Nabawi (Kedokteran Nabi). Namun yang menjadi keprihatinan adalah banyak umat Islam sendiri yang justru belum mengenal apa itu konsep Kesehatan Islam. Ini bisa dipahami mengingat kurangnya sosialisasi di tengah masyarakat dan masih jarang ahli kesehatan yang mengkhususkan diri mengkaji dan mensyiarkan konsep Kesehatan Islam ini. Kalaupun ada itu pun masih bisa dihitung dengan jari.

Istilah Thibbun Nabawi sebenarnya tidak ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Seperti yang ditulis oleh dr.Wadda’ Amani Umar :
“Istilah atau sebutan Thibbun Nabawi sebenarnya tidak ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Nabi sendiri tidak pernah membuat klasifikasi bahwa ini termasuk Thibbun Nabawi dan itu bukan. Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke – 13 masehi untuk memudahkan klasifikasi ilmu kedokteran. Istilah Thibbun Nabawi dipakai untuk menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT, serta bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang dibedakan dengan ilmu-ilmu kedokteran yang tumbuh liar sehingga bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, seperti sebelum datangnya Islam”.[1]

Istilah Thibbun Nabawi diambil dari kitab karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (691-751 H / 1282-1327 M) yang berjudul Za’dul Ma’ad. Ibnu Khaldun dalam muqoddimahnya mengatakan bahwa Kedokteran Islam atau Thibbun Nabawi muncul sebagai hasil integrasi ilmu kedokteran Yunani, Persia, India, China dan Mesir yang sudah ada sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Kedokteran di China (akupresur dan akupuntur), Arab (kay) dan India dikenal dengan nama ilmu kedokteran tradisional (Traditional Medicine). Pengobatannya dikoreksi karena banyak mengandung unsur syirik, khurafat serta membahayakan tubuh. Sedangkan Kedokteran Modern berasal dari Kedokteran Persia (farmakologi, apotek, pengobatan rumput-rumputan, aromaterapi) dan Kedokteran Mesir (ilmu bedah, operasi, pengobatan mata).[2]

Setelah kedatangan Nabi Muhammad SAW, Ilmu kedokteran Yunani, Persia, India, China dan Mesir tersebut dipandu dengan wahyu Allah yang diturunkan kepada beliau sehingga terjaga dari kesyirikan, tahayul, bid’ah serta khurafat. Dipenuhi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ilmu-ilmu yang sesuai dengan ajaran Islam terus dikembangkan, sedang yang bertentangan dilarang, yang salah dikoreksi dan yang lainnya dibiarkan saja. Sehingga Rasulullah SAW adalah tonggak utama dari sejarah Thibbun Nabawi. Kerasulannya menjadi titik acuan sejarah Thibbun Nabawi karena di saat itulah terjadi perpaduan berbagai disiplin ilmu kedokteran. Baik pengobatan modern, tradisional, maupun alternatif.[3]

Prof.Dr.Omar Hasan Kasule, pakar kedokteran Islam dari IIUM (International Islamic University of Malaysia) mendefinisikan Thibbun Nabawi sebagai perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad SAW tentang pengobatan. Baik yang dilakukan orang lain kepada Nabi, yang dilakukan Nabi terhadap dirinya dan orang lain, atau praktek medis yang dilihat Nabi dan dibiarkan atau tidak dilarang oleh beliau.[4]

Dari penjelasan tersebut bisa digarisbawahi, bahwa Thibbun Nabawi merupakan segala aktivitas pengobatan yang berada dalam bingkai keimanan kepada Allah SWT, serta bimbingan Al-Quran dan          As-Sunnah. Hal inilah yang semestinya menjadi acuan bagaimana seharusnya ummat muslim berobat. Thibbun Nabawi bukan sekedar sistem pengobatan yang bersifat monolistik, sebagaimana yang dipahami banyak orang. Tapi ia bervariasi dan terperinci. Ia meliputi pengobatan yang bersifat pencegahan, penyembuhan, penyehatan mental, penyembuhan spiritual, perawatan medis dan bedah. Ia mengintegrasikan pikiran dan tubuh, materi dan roh.

Konsep pengobatan Thibbun Nabawi ini adalah suatu konsep yang akan terus update dengan masa kapan saja dan dimana saja. Tidak hanya mencakup pengobatan yang dilakukan pada jaman Nabi, tapi mencakup pengobatan hari ini dan di masa depan selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Thibbun Nabawi merupakan bagian dari Syariah. Namun sifat praktek tersebut tidak tetap, tetapi bisa berubah dan berkembang sesuai ijtihad dan penelitian empiris yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.


[1] Aiman bin ‘Abdul Fattah, Keajaiban Thibbun Nabawi, Penerbit Pustaka Al- Qowam, Solo, 2005, hal xx
[2] Aiman bin ‘Abdul Fattah, Keajaiban Thibbun Nabawi, Penerbit Pustaka Al- Qowam, Solo, 2005,
  hal xxi
[3] Aiman bin ‘Abdul Fattah, Keajaiban Thibbun Nabawi, Penerbit Pustaka Al- Qowam, Solo, 2005, hal xxii
[4] Bahrul Ulum, “Batasan Thibbun Nabawi” Majalah Hidayatullah Mujarabnya Thibbun Nabawi  Edisi Khusus  
   2010, hal.50

1 komentar:

  1. Winstar casino is back in action in South Africa | JTM Hub
    The WinStar 보령 출장안마 Entertainment Group today announced that its 평택 출장마사지 brand will be back in 포항 출장안마 action with the 진주 출장샵 launch of the WinStar Entertainment Group brand in South 영천 출장샵 Africa.

    BalasHapus