Yayasan LPKT Empati


Selamat Datang Di LPKT EMPATI ("Embun Pagi Sehat Alami")

Jumat, 18 Mei 2012

Prinsip Thibbun Nabawi


Berikut adalah prinsip-prinsip Thibbun Nabawi[1], antara lain :

1.    Keyakinan
Ketika seseorang sakit, ia harus sangat menyakini bahwa sakit yang dialaminya tersebut berasal dari Allah SWT dan Allah juga yang akan menyembuhkannya. Sebagaimana dalam Firman Allah Q.S. Asy-Syu’ara [26] : 80) “apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku”

2.    Menggunakan obat yang halal dan thoyyib.
“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit pasti ada obatnya. Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan  yang haram.” (Riwayat Abu Dawud).
Dari hadits tersebut, sangat jelas Allah melarang menggunakan obat dari barang yang haram. Walaupun pada akhirnya mencapai kesembuhan namun jauh dari keberkahan, sehingga menjauhkan seorang dari tujuan diturunkannya penyakit yaitu sebagai penggugur dosa.

3.    Tidak membawa mudharat yang akan mencacatkan tubuh.
Dalam pengobatan Islam, kita dianjurkan untuk tidak melakukan pengobatan yang kiranya pengobatan tersebut membawa kemudharatan yang justru menimbulkan masalah baru bagi seseorang. Sebagaimana dalam hadits :

“Jauhkanlah dia dari kesakitan, wahai Tuhan sekalian manusia, sembuhkanlah dia, dan engkaulah Maha Penyembuh yang tidak akan datang kesembuhan kecuali datang dari-Mu, kesembuhan dari jenis yang tidak akan kembali penyakitnya" (HR. Muslim).

4.    Tidak berbau takhayul, bid’ah, dan khurafat.
Ketiga hal di atas selain harus dihindari juga bisa mengakibatkan pelakunya jatuh dalam jurang kekafiran. Dapat kita bayangkan dalam rangka berobat justru akidah tergadai, hal ini tentunya sangat disesalkan. Realita ini sangat sering kita lihat dalam dunia pengobatan sekarang, termasuk menggunakan media-media tertentu dalam pengobatan yang tidak ada dalam tuntunan Islam atau yang pernah diajarkan Rasulullah.

5.    Mencari yang lebih baik.
Dalam Pengobatan Islam, seseorang dianjurkan untuk terus berikhtiar sampai penyakit itu sembuh atas izin Allah. Sesungguhnya Allah tidak hanya melihat kesembuhan yang akan dicapai, tapi proses menuju kesembuhan itupun akan dinilai oleh-Nya, apakah ia melakukan hal yang dilarang untuk berobat. Jadi jika sembuh namun akidah tergadai apalah artinya kesembuhan tersebut.

6.    Para pengobat harus mengetahui ilmu tubuh manusia dan ilmu pengobatan dan efek samping obat yang diberikan kepada pasien dengan baik.

Sebagaimana dalam hadits :
Amar Ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa melayani pengobatan padahal ia tidak mengerti ilmu pengobatan, lalu mencelakakan satu jiwa atau kurang daripada itu, maka ia harus bertanggung jawab.” (HR. Daruquthni dan dinilai shahih oleh Hakim).


Dari penjelasan tersebut bisa ditarik kesimpulan, bahwa Thibbun Nabawi merupakan ilmu pengobatan yang berasaskan Ilahiah, Ilmiah dan Alamiah, dimana Ilahiah artinya adalah meletakkan unsur-unsur ketuhanan sebagai sumber pengobatan, bahwa setiap penyakit, yang bisa menyembuhkan adalah sang Maha Penyembuh yaitu Allah SWT. Ilmiah artinya bahwa konsep pengobatan yang digunakan bisa dijelaskan secara keilmuan dan bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Alamiah artinya konsep pengobatan ini menggunakan bahan-bahan alami sebagai obat, atau yang lebih dikenal dengan istilah Herbal.

Perkembangan Thibbun Nabawi mengalami akselerasi yang cepat. Salah satu praktek Thibbun Nabawi yang saat ini sedang “booming” adalah bekam (al-hijamah). Bukti tersebut terlihat dengan munculnya berbagai klinik, pelatihan singkat dan terapis bekam di Indonesia. Namun dibalik perkembangan tersebut, tidak menutup kemungkinan terjadinya keprihatinan yang justru mengancam Thibbun Nabawi itu sendiri. Maraknya praktik bekam yang mudah dilakukan oleh semua kalangan bisa membawa masalah baru terjadinya “malpraktik”. Malpraktik tersebut dikarenakan kurangnya pembekalan ilmu yang cukup mengenai konsep dasar Thibbun Nabawi yang dipelajari.

Bekam adalah teknik terapi penyakit. Bekam bukan sebuah ilmu pengobatan yang membahas etiologi (penyebab penyakit) dan pathogenesis (perjalanan terbentuknya penyakit). Bekam juga tidak membahas gejala klinik sebuah penyakit, bagaimana mendiagnosa penyakit, bagaimana memberikan edukasi ke pasien tentang pencegahan terhadap penyakit dan lain-lain. Semua itu adalah rangkaian ilmu terstruktur yang harus diketahui terlebih dahulu sebelum melakukan terapi penyakit. Selain itu, kurangnya pembekalan ilmu ketauhidan, seorang terapis dan pasien lebih menekankan faktor ilmiah/fisik saja dari penyakitnya tanpa melihat faktor spiritual, psikis dan sosialnya. Sehingga hal ini semakin menjauhkan seseorang semakin jauh tujuan Rabbnya menurunkan penyakit. Sehingga dikhawatirkan kesalahan-kesalahan yang terjadi tidak dipandang dari “si praktisi” namun lebih kepada “jenis pengobatan” yang dilakukan.

Karena Bekam adalah suatu teknik terapi penyakit, maka untuk melakukan terapi bekam diperlukan ilmu kesehatan lain seperti anatomi, diagnosa, ilmu kedokteran barat, ilmu kedokteran timur dan lain-lain yang mendasari dilakukannya Praktek Terapi Bekam. Sampai saat ini, Bekam belum mempunyai teori ilmiah yang tetap, yang mendasari selama ini adalah dari Hadits Rasulullah SAW yaitu, “Kesembuhan terdapat dalam 3 hal, yakni meminum madu, sayatan bekam dan sundutan dengan api, dan aku melarang umatku berobat dengan sundutan api” (HR. Bukhori). Namun, hadits tersebut tidak cukup dijadikan landasan untuk melakukan praktek bekam.

Untuk itu diperlukan Lembaga Pendidikan Kesehatan khusus yang mengkaji Terapi Bekam dengan dasar semua ilmu kesehatan baik dari Kedokteran Barat maupun Kedokteran Timur. Atas dasar inilah Yayasan Embun Pagi Sehat Alami (EMPATI) berusaha mendirikan Lembaga Pendidikan Kesehatan Thibbun Nabawi (LPKT) EMPATI. LPKT EMPATI berusaha untuk menjadi pelopor lembaga pendidikan Kesehatan Islam yang terdaftar dan terstruktur dan bisa diakui oleh pihak terkait.



[1] Prinsip-prinsip Pengobatan Rasulullah, http://.kliniksehatbanjarmasin.webnote/news/website- launched/html.
   Pada tanggal 23 Mei 2011 pukul 11.30

Tidak ada komentar:

Posting Komentar